Sabtu, 30 September 2017

AN ANALOGY OF COFFEE SEED , POTATO AND EGG



Waktu itu adalah hari ketiga saya memulai belajar di SMA. mata pelajaran pada saat itu adalah mata pelajaran ekonomi yang diajari oleh guruku yang bernama Ibu Niken. Sebenernya jurusan yang saya minati adalah jurusan IPA. Meskipun jurusan yang saya minati adalah IPA , kami tetap mendapat mata pelajaran Ekonomi dan Geografi sebagai mata pelajaran lintas minat.

Entah hanya perasaan saya atau memang materinya belum serumit bab bab selanjutnya, suasana kelas begitu bersemangat mengikuti mata pelajaran yang diajarkan oleh Ibu Niken tentang permintaan dan penawaran. Meskipun saya agak asing dengan mata pelajaran ini , saya tetap mengikuti pelajaran ini dengan suka cita.

Ibu Niken bisa dibilang adalah guru yang berbeda dari guru guru yang lain, karena Bu Niken selalu memberikan slideshow yang berisi kisah kisah dan analogi suatu cerita yang mengandung berbagai pesan moral.Disinilah maksud saya untuk menceritakan kisah ini.

Bu Niken menampilkan sebuah slideshow yang berisi gambar kentang , telur dan sekantung yang berisi banyak biji kopi. Entah apa maksudnya di sampung ketiga objek tersebut terdapat sebuah kompor yang sedang memanaskan sebuah panci yang berisi air mendidih.

Ketika temanku bertanya apa maksud dari itu semua, Bu Niken dengan suara yang agak mendalam menjawab bahwa kentang , telur dan biji kopi adalah bentuk perumpaan dari seorang manusia. Sedangkan kompor yang mendidihkan panci berisi air itu dianalogikan sebagai tekanan dan masalah yang dihadapi oleh seorang manusia.

Pertama , sebuah telur yang rapuh dicebus di dalam air yang mendidih pastinya akan berubah menjadi keras setelah beberapa saat. Bu Niken berkata kalau manusia yang seperti pada mulanya adalahnya manusia yang lemah dan rapuh. Begitu masalah dan tekanan menerjang dirinya , dirinya menjadi sesosok pribadi yang keras dalam arti menjadi sesosok manusia yang egois.

Selanjutnya , saat kentang direbuskan, wujud kentang berubah menjadi yang semula keras menjadi sebuah kentang yang lunak dan mudah rusak. Maksud dari Bu Niken adalah pada mulanya ada manusia yang menganggap dirinya itu kuat dan tahan banting, namun setelah tekanan dan masalah menerjang dirinya , dirinya menjadi manusia yang lemah dan rapuh, bahkan suka mengeluh.

Terakhir , sebuah biji kopi dimasukkan ke dalam panci yang sedang mendidihkan air itu. Namun apa yang terjadi? ternyata tidak ada yang mengubah biji kopi itu , melainkan warna airnya lah yang berubah. Disinilah Bu Niken menekankan kepada kami, kalau kami harus menjadi seperti biji kopi yang disaat masalah dan tekanan menerjang kita , namun kita tetap tegar dan kitalah yang mampu mengubah keadaan sulit tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar