Sabtu, 30 September 2017

SITU GINTUNG TRAGEDY


Kisah ini terjadi pada tahun 2009.

Hari itu hujan terus menerus tanpa henti , bahkan di televisi pun disampaikan kalau di beberapa bagian tempat telah terjadi hujan es yang mengakibatkan berbagai kerusakan seperti genting pecah , kaca mobil retak bahkan ada yang melukai beberapa orang. Pada waktu itupun saya melihat langit tidak seperti hujan pada biasanya. Karena di langit saya melihat petir dengan warna merah. Tentu saja peristiwa itu sangat unik sekaligus aneh karena biasanya petir dengan warna putih kebiru-biruan.

Hujan yang tidak kunjung berhenti itu mengakibatkan sebuah bencana yang meninggalkan luka yang begitu mendalam bagi para korbannya, peristiwa itu dinamakan Air Bah Situ Gintung. Peristiwa tersebut terjadi begitu dahsyat , disebabkan oleh tanggul Situ Gintung yang tak mampu lagi menampung kapasistas air dan pada akhirnya menenggelamkan dan menghanyutkan sekitarnya.

Banyak kisah pilu yang saya dengar secara langsung dari lokasi kejadian pasca bencana. Ada yang rumahnya rubuh , binatang peliharaan mereka seperti anjing dan kucing juga hanyut dibawa arus , bahkan ada yang terpisah dari sanak saudaranya karena terbawa arus yang begitu deras dan beberapa dari mereka telah ditemuka dalam kondisi tak bernyawa.

Pada saat itulah juga menjadi hari pertama saya menjadi salah satu volunteer bencana alam karena diajak ayah saya bersama mahasiswa mahasiswa nya membantu para korban. Meskipun di usia saya yang terbilang paling muda daripada yang lain, saya tetap senang dan antusias dalam membantu korban korban tersebut.

Mulai dari belanja kebutuhan pokok untuk para korban di salah satu toko swalayan , membantu membungkus barang barang ke dalam kardus dan ikut langsung ke posko penampungan untuk membagikan donasi donasi tersebut kepada para korban menjadi pengalaman eksklusif pertama saya menjadi volunteer bencana alam.

Oleh karena itu , kita sebagai manusia harus punya rasa peduli dan perikemanusiaan kepada orang lain karena pada dasarnya manusia tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

FATAL ERROR



Pagi hari di hari Senin tanggal 18 September 2017 menunjukkan pukul 06.45 WIB. Diriku bangun dari tempat tidur dan langsung bergegas mandi karena diriku sadar kalau diriku akan telat menghadiri mata kuliah yang bernama Pengantar Akuntansi yang akan dilaksanakan kuis pada pukul 07.30 WIB itu.Tentu saja aku melakukan apapun dengan tergesa gesa.Mulai dari mandi , berpakaian hingga berangkat ke kampus menggunakan fasilitas ojek online.

Karena begitu tergesa gesa , aku bahkan tidak sempat membuat sarapan. Aku langsung meninggalkan meja makan dan menuju tukang ojek online yang berada di depan rumah. Meskipun rumahku terbilang cukup dekat dari kampus , namun kalau tidak buru buru tentu saja akan terlambat juga karena berangkat dari rumah ke kampus pada pukul 07.02 WIB adalah saat saat macet di daerah Bintaro.

Mungkin karena belum sarapan sehingga membuat diriku tidak sanggup berkonsentrasi itulah aku baru teringat saat baru sampai di depan gerbang kampus , aku sadar kalau aku lupa memakai sesuatu yang sangat krusial bagi mahasiswa , yaitu kartu tanda mahasiswa yang berkalung merah itu. Tentu saja aku panik , karena tidak mungkin kembali ke rumah hanya untuk mengambil KTM itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.22 WIB. Terus melintas di dalam kepalaku kalau di kampus pernah ada cerita bahwa ada mahasiswa yang dikeluarkan dari ruangan kelas karena tidak membawa KTM. Aku terus berusaha menelpon ayahku agar KTM ku dibawa ke kampus dan dititipkan ke pos satpam, namun sama sekali tak ada jawaban.

Untuk meminimalisasi masalah , aku berusaha duduk di paling belakang agar seragamku yang tanpa KTM ini tidak terlihat oleh dosen. Saat dosen masuk , perlahan lahan kulitku mendadak pucat karena membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya. Untungnya Tuhan masih menjaga saya , hari itupun tidak jadi kuis karena satu kelas belum mengerti mengenai babyang akan dikuiskan dan dosenku tidak mengecek kelengkapan atribut.Senangnya.

Mulai saat itu saya berusaha agar dalam kondisi segenting apapun , saya harus tetap fokus dalam segala hal.

AN ANALOGY OF COFFEE SEED , POTATO AND EGG



Waktu itu adalah hari ketiga saya memulai belajar di SMA. mata pelajaran pada saat itu adalah mata pelajaran ekonomi yang diajari oleh guruku yang bernama Ibu Niken. Sebenernya jurusan yang saya minati adalah jurusan IPA. Meskipun jurusan yang saya minati adalah IPA , kami tetap mendapat mata pelajaran Ekonomi dan Geografi sebagai mata pelajaran lintas minat.

Entah hanya perasaan saya atau memang materinya belum serumit bab bab selanjutnya, suasana kelas begitu bersemangat mengikuti mata pelajaran yang diajarkan oleh Ibu Niken tentang permintaan dan penawaran. Meskipun saya agak asing dengan mata pelajaran ini , saya tetap mengikuti pelajaran ini dengan suka cita.

Ibu Niken bisa dibilang adalah guru yang berbeda dari guru guru yang lain, karena Bu Niken selalu memberikan slideshow yang berisi kisah kisah dan analogi suatu cerita yang mengandung berbagai pesan moral.Disinilah maksud saya untuk menceritakan kisah ini.

Bu Niken menampilkan sebuah slideshow yang berisi gambar kentang , telur dan sekantung yang berisi banyak biji kopi. Entah apa maksudnya di sampung ketiga objek tersebut terdapat sebuah kompor yang sedang memanaskan sebuah panci yang berisi air mendidih.

Ketika temanku bertanya apa maksud dari itu semua, Bu Niken dengan suara yang agak mendalam menjawab bahwa kentang , telur dan biji kopi adalah bentuk perumpaan dari seorang manusia. Sedangkan kompor yang mendidihkan panci berisi air itu dianalogikan sebagai tekanan dan masalah yang dihadapi oleh seorang manusia.

Pertama , sebuah telur yang rapuh dicebus di dalam air yang mendidih pastinya akan berubah menjadi keras setelah beberapa saat. Bu Niken berkata kalau manusia yang seperti pada mulanya adalahnya manusia yang lemah dan rapuh. Begitu masalah dan tekanan menerjang dirinya , dirinya menjadi sesosok pribadi yang keras dalam arti menjadi sesosok manusia yang egois.

Selanjutnya , saat kentang direbuskan, wujud kentang berubah menjadi yang semula keras menjadi sebuah kentang yang lunak dan mudah rusak. Maksud dari Bu Niken adalah pada mulanya ada manusia yang menganggap dirinya itu kuat dan tahan banting, namun setelah tekanan dan masalah menerjang dirinya , dirinya menjadi manusia yang lemah dan rapuh, bahkan suka mengeluh.

Terakhir , sebuah biji kopi dimasukkan ke dalam panci yang sedang mendidihkan air itu. Namun apa yang terjadi? ternyata tidak ada yang mengubah biji kopi itu , melainkan warna airnya lah yang berubah. Disinilah Bu Niken menekankan kepada kami, kalau kami harus menjadi seperti biji kopi yang disaat masalah dan tekanan menerjang kita , namun kita tetap tegar dan kitalah yang mampu mengubah keadaan sulit tersebut.


Selasa, 26 September 2017

DON'T BE RECKLESS



Ada pepatah mengatakan "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali". Mungkin akan cocok dengan cerita yang akan saya sampaikan ini.Hari itu , senin , tanggal 25 September 2017 adalah minggu keempat kami menjalankan kuliah. Sesuai jadwal yang biasa kami lakukan tiap hari , kami memiliki jadwal mata kuliah pendidikan kewarganegaraan yang rutin dilaksanakan setiap pukul 13.20 WIB. Suasana kelas tidak ada bedanya seperti hari hari lalu , kelas berisi anak anak yang menjual makanan untuk danus acara masing masing , ada yang bercanda , ada yang luntur juga bedak tipis yang dipakai di mukanya karena sayangnya pendingin udara di kelas yang kami pakai sedang rusak.

Semuanya pada awalnya berjalan dengan normal sampai dosen kami masuk ke ruangan kami. Awalnya saya hanya iseng saja menghitung jumlah mahasiswa dan mahasiswa di kelas , sampai saya menyadari suatu kejanggalan dimana jumlah mahasiswa yang ada di kelas kami hanya berjumlah 38 orang. Tentu saja kami panik. Akhirnya setelah kami mengabsen satu satu akhirnya ketemu juga mahasiswa yang belum hadir itu.

Tanpa pikir panjang , saya langsung menelpon dia ,
"lu ada dimana? buruan sini dosennya udah dateng"
dengan suara yang terdengar seperti orang habis bangun tidur dia menjawab,

"lagi di rumah. emang masih boleh masuk ya?"

seketika teman sebangku saya langsung bilang dengan nada yang pelan,

"udah dateng aja buruan langsung ganti baju."

sesaat demi sesaat kami menunggu kehadirannya yang tak kunjung muncul juga.Penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya , akhirnya kami telpon balik lagi teman kami dengan strategi yang cukup bisa dibilang "pintar".

"udah lo buruan naek ojek online aja gausah bawa tas biar dikira abis dari kamar mandi" jawabku spontan.

Waktu kian berlalu , akhirnya teman kami datang juga di kelas. Tanpa rasa curiga apapun dari dosen kami dia masuk ke kelas tanpa tas seolah olah dia baru saja dari kamar mandi.Dan untungnya juga dosen belum sempat mengabsen data kehadiran kelas kami.

Walaupun yang kami lakukan ini terkesan salah , paling tidak ada rasa kepedulian antar teman terutama teman sekelas sendiri.Karena kami disini masuk bersama sama , dan sudah seharusnya juga kami lulus bersama sama juga. Semangat!

Senin, 25 September 2017

UNEXPECTEDLY GONE



Meskipun akhir pekan , namun rasanya sama sekali bukan akhir pekan. Bagaimana tidak , seolah olah antara kepentingan gathering dan seleksi elkam CANON [Community of STAN Badminton] , belajar mandiri untuk kuis pengantar akuntansi bab tiga , belajar kelompok , dan mengerjakan sisa sisa pekerjaan rumah yang diberikan oleh dosen dari berbagai mata kuliah menarik narik waktu yang saya miliki di akhir pekan ini. Terpaksa harus bangun pagi untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang super banyak ini. Begitu banyaknya pekerjaan pekerjaan rumah ini sehingga tak terasa waktu berjalan dari pukul 7 pagi hingga pukul setengah 12 siang.

Aktivitas yang membosankan ini kemudian saya lanjutkan untuk pergi ke kampus untuk menghadiri
gathering yang dilaksanakan oleh elkam CANON , disini kami bermula mula berkumpul di gedung Student Center Tiben untuk melakukan perkenalan dari angkatan 2017 dan para kakak tingkat kemudian dilanjutkan menuju tempat seleksi badminton yang bertempat di Badminton Hall Zahra. Seleksi yang dilakukan hanya berupa smash , netting serta back hand. Walaupun seleksinya tidak semudah kita melakukannya , namun saya tetap senang saya bisa berkenalan dengan teman teman baru.

Sesampainya di rumah , entah kenapa ayah minta KTP saya untuk difoto , tanpa pikir panjang saya langsung ambil dompet. Namun yang terjadi sangat tak terduga , KTP saya tidak ada di dompet sama sekali. Begitu paniknya sampai sampai saya harus membongkar pasang lemari meja belajar , lemari pakaian , bagasi motor , bahkan di bawah tempat tidur sekalipun. Namun hasilnya nihil , KTP itu tidak ada dimana mana. Segala cara saya tempuh untuk mendapatkan KTP itu kembali , hingga saya buat jarkom ke berbagai grup di handphone saya dan juga jarkom di instagram saya. Namun tetap saja , tidak ada info masuk ke handphone saya mengenai keberadaan KTP saya

Entah bagaimana nasib keberadaan KTP saya , bagaimana saya kehilangan KTP saya , dan apa yang akan saya lakukan kedepannya untuk memperoleh KTP baru , hal ini mengajarkan saya agar lebih berhati-hati dan tidak sembrono dalam meletakkan sesuatu , terutama sesuatu yang begitu penting.


Sabtu, 23 September 2017

BASIC LEADERSHIP TRAINING


Pra-LDKS saat SMA telah menjadi masa masa terberat yang saya alami. Bagaimana tidak , waktu seminggu penuh digunakan untuk hal hal yang saya anggap kurang penting dan tidak ada kegunaannya sama sekali. Mulai dari technical meeting yang memakan waktu sampai sore , uang jajan habis hanya untuk beli snack yang diberi inisal yang tidak jelas , membuat nametag yang ukurannya harus dicari terlebih dahulu dengan rumus matematika , terlebih lagi saya harus menghadapi kakak kelas yang sok galak dan gila hormat.

Yang saya rasakan saat LDKS berlangsung? tentu saja kesal. tidak ada sama sekali rasa senang dalam diri saya melihat tingkah laku kakak kakak kelas yang sok galak memarahi adik kelasnya dengan embel embel kedisiplinan. Saya anggap LDKS yang dilakukan oleh mereka itu hanya wasting time saja , baik aktivitas fisiknya maupun materi yang diberikan.

Seiring berjalannya waktu yang dimulai dari pra-LDKS selama tujuh hari dan masa masa LDKS selama tiga hari , saya sedikit demi sedikit menyadari kalau kegiatan kegiatan tersebut memang direncanakan sebelumnya. Saya merasa berbagai tekanan yang dilakukan kepada saya selama masa masa LDKS ini merupakan pembelajaran bagi saya agar menjadi pribadi yang lebih kuat lagi dalam menghadapi berbagai rintangan dan juga belajar untuk tidak mengeluh dalam melakukan sesuatu.

Misalnya , technical meeting yang dilakukan sampai sore mengajarkan untuk semangat meskipun tugas belum selesai sampai larut malam , berburu snack ringan yang nama aslinya diberikan kode melatih kita untuk lebih peka terhadap lingkungan dan juga berinteraksi dengan teman teman sekolah , terutama yang belum kita kenal , membuat nametag yang ukurannya harus dihitung terlebih dahulu mengajarkan kita untuk teliti sebelum membuat sesuatu dan puncaknya , omelan omelan dari kakak kelas yang sok galak ini mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan tegar dalam menghadapi berbagai rintangan

Saya sadar bahwa yang saya lakukan dengan mengeluh dan berkeluh kesah adalah sebuah kesalahan yang tidak akan menyelesaikan apapun. Mengeluh bukanlah cara yang baik untuk menghadapi masalah yang kita hadapi. Masa lalu sudah kita lewati , masa depan menanti di depan kita. Sudah tugas kita untuk menjadi yang lebih baik lagi dari hari kemarin untuk hari esok.

ORPHANAGE ENCOUNTER



Ayahku membangunku di hari yang begitu pagi , kemudian membereskan tempat tidurku , bergegas mandi dan kemudian bersiap siap. Entahlah , aku tak tahu kemana ayahku akan membawaku pergi , yang kulihat di dalam mobil hanyalah diriku , ayahku , dan seorang temannya bersama anaknya.

Tak banyak yang kulihat sepanjang perjalanan , yang kuingat hanya diriku sedang bersenang senang dalam mimpi karena tak kuasa menahan kantuk dan dinginnya udara. Sampai suatu saat , terbangunlah diriku dan tiba di suatu gedung yang agak kuno. Sedikit informasi yang kupunya mengenai gedung itu. Ternyata setelah kutelusuri , bangunan tua itu adalah sebuah panti asuhan.

Tak tahu apa yang membuat ayahku dan teman ayahku membawa diriku kesana. Disana , kami disambut dengan ramah oleh seorang biarawati.Biarawati itu sangat ramah , senyumannya juga manis.Tak lama para orang dewasa berbincang bincang, diajaklah kami berkeliling keliling.

Bukan rasa senang yang aku dengar dari ucapan biarawati , tetapi kisah pilu dari berbagai kisah anak anak yang tinggal di panti asuhan ini. Usia mereka beraneka ragam , mulai dari bayi , anak anak seumuranku , bahkan yang seumuran anak SMP dan SMA pun juga ada di panti asuhan ini.

Biarawati itu pun menjelaskan berbagai kisah pilu yang terjadi pada anak anak itu , mulai dari ditelantarkan orang tuanya , bayi bayi yang ditaruh di dalam kardus dan diletakkan di depan panti begitu saja , permasalahan orang tua , bahkan ada yang berasal dari unwanted pregancy. Tapi , apakah mereka semua harus merasakan seperti ini? tanpa orang tua , tak ada yang membimbing , tak ada yang bisa diajak cerita , dan tak ada yang bisa dipeluk saat kita punya masalah.

Terlepas dari latar belakang cerita mereka yang begitu memilukan , tapi mereka masih bisa untuk tersenyum dan tertawa , bahkan kami sempat bermain , makan siang dan malam serta berdoa bersama sama.Senang rasanya bisa mengenal mereka , walaupun masalah mereka begitu berat , mereka masih bisa untuk mensyukuri kehidupan ini.

Oleh karena itu , kita harus lebih bersyukur dan menghargai apa yang Tuhan berikan kepada kita. Haleluya.


Jumat, 22 September 2017

FIRST TIMER


Bingung rasanya menceritakan perasaan yang saya rasakan saar pertama kali mulai kuliah. Senang? takut? pusing? ya begitulah pokoknya, sangat sulit untuk dijelaskan.

Awalnya , yang pertama kali terlintas di kepala saya adalah kalau saya kuliah di dekat Bintaro , pasti  teman teman saya mayoritas berasal dari Tangerang , Jakarta , Depok dan Bekasi. Namun saya ternyata salah besar.

Rupanya , mayoritas teman teman saya berasal dari luar daerah , terutama daerah Jawa. Ya , memang agak surprising sih , karena saya sekali tidak bisa berbahasa Jawa. Ditambah lagi , ada juga rumor mengatakan kalau beberapa dari mereka kurang familiar dengan kata elu gue.

Namun , saya tetap kukuh dengan pendirian saya untuk berteman dengan cara saya sendiri. Agak canggung memang awalnya , tapi pada akhirnya mereka menerima saya dengan baik. Bahkan saya bisa berbicara dengan bahasa daerah teman teman saya.

Intinya , jangan pernah takut untuk memulai sesuatu yang tak sejalan dengan ekspektasi  kita.

Kamis, 21 September 2017

EXPECT THE UNEXPECTED


Sabtu , 16 September 2017 mungkin bisa dibilang hari paling mengejutkan dan melelahkan. Pasalnya , kami harus menghadiri kelas pengganti mata kuliah Hukum Keuangan Negara dikarenakan dosen kami pada hari sebelumnya berhalangan hadir.

Awalnya , suasana kelas terasa biasa saja , ada yang ngobrol , ada yang tidur , bahkan ada yang mainan handphone. Sampai pada suatu saat ada teman kami yang entah niatnya mau iseng tiba tiba berkata kalau hari ini ada kuis. Tentu saja kami tidak percaya dan hanya menganggap ucapan itu sebagai guyonan semata.

Tak ada angin bahkan tak ada hujan , dosen kami datang dan berkata untuk menutup buku catatan milik kami.Terus terang aja kami kaget karena apa yang diprediksikan teman kami benar benar terjadi rupanya.Tanpa pikir panjang kami hanya bisa menjawab semampu dan sehapalnya diri kami.

Dari kisah inilah kami belajar untuk selalu menyicil sedikit demi sedikit pelajaran yang telah disampaikan dosen kami.

STAY GRATEFUL


Cerita ini saya ambil dari pengalaman saya setelah pulang sekolah tiga tahun yang lalu.

Awalnya memang kesal dan geram dengan peraturan yang dibuat orang tua bahwa saya dilarang mengendarai motor ke sekolah sebelum saya memiliki KTP dan SIM.Alhasil , saya harus bangun lebih pagi supaya terhindar dari macet dan pulang harus menggunakan metromini dan melewati macet yang parahnya bukan main.

Susah memang , saya jadi kurang tidur , tak bisa menabung lebih banyak karena ongkos kendaraan umum yang agak mahal dan yang lebih parahnya lagi saya harus melewati jam jam pulang kantor dimana para pekerja baru pulang dari kantor sehingga jalanan begitu macet bukan main.

Sampai suatu saat saya melihat seorang ibu ibu yang berjualan makanan ringan sambil menggendong bayinya di dalam metromini. Awalnya saya tidak menghiraukan ibu tersebut karena saya tidak tertarik dengan makanan yang ibu itu jual.Tapi lama kelamaan saya hati saya tersentuh juga dan saya belilah sedikit dari dagangan ibu tersebut.

Sempat terpikir dalam benak saya , "kalau ibu itu dengan segala keterbatasannya masih mampu berusaha untuk menghidupi dirinya dan anaknya , kenapa saya harus mengeluh dengan segala sesuatu yang terjadi dengan saya?" .

Dari situlah saya belajar untuk  survive menghadapi segala rintangan yang saya harus lalui dan juga menghargai betapa besarnya jasa orang tua , terutama seorang ibu dalam membesarkan anak anaknya.

ONE STEP MORE PREPARED


Hari ini mungkin bisa saja disebut hari tersial yang pernah saya alami. Bagaimana tidak , setidaknya saya sudah sial sebanyak tiga kali.

entah karena lupa atau terburu buru , waktu satu jam saya terbuang percuma di kampus karena saya datang jauh lebih awal dari jadwal seharusnya dimana di jadwal tertulis jam 13.20 , tapi saya datang pukul 12.20. Alhasil , saya harus menunggu di dalam kelas sendirian sampai teman teman saya yang lain datang.

Sesudah kuliah , saya dibuat panik oleh keteledoran saya sendiri dimana saya sama sekali tidak menemukan kunci motor saya baik di saku baju maupun di dalam tas. Dengan muka putus asa saya menuju ke tempat parkiran dan terkejutlah saya. Ternyata , kunci motor saya masih menggantung di motor. Syukurnya Tuhan masih menjaga saya , motor saya masih dalam keadaan baik baik saja.

Terakhir , karena ada suatu urusan saya harus pergi ke Blok M tanpa menggunakan motor. Alhasil , saya hampir tak bisa pulang karena baterai handphone saya yang tinggal 5% karena tiba tiba power bank saya mendadak rusak.Untungnya ada seorang bapak yang baik hati mencarikan saya ojek.

Meskipun saya telah melalui hari hari yang menyebalkan , bukan berarti saya harus terus mengeluh , hal ini menjadikan saya untuk lebih berhati hati dan melatih diri untuk menyiapkan segala sesuatu yang saya butuhkan dengan baik

DEALING WITH OTHER PATH



"yaelah susah amat dah ini pengakun malah gue dulunya anak ipa"  kalimat itu terucap dari sebagian besar anak anak di kelas kami. Apa boleh buat , dari 39 anak di kelas kami, hanya tiga orang saja yang asal jurusannya berasal dari IPS.

Memang , sebagian besar dari kami masih terbilang asing dengan akuntasi karena semasa SMA kami tak pernah jauh dari tetradotoksin , asam oleat , hukum kinematika dan sejenisnya.Canggung dan aneh rasanya, menjadi anak yang berlatar belakang dari jurusan IPA , saat kuliah harus menyesuaikan diri lagi dengan materi materi anak IPS

Awalnya memang kesal dan mengeluh terus menghadapi soal soal akuntasi yang menurut kami dinilai sulit karena masalah balance nya.Tapi apakah dengan mengeluh soal soal dapat sekejap terselesaikan? tentu saja tidak.Dari situlah kami bangkit.

Berbagai cara kami lakukan untuk menyelesaikan tugas itu , mulai dari bertanya di grup kelas , belajar bersama hingga berbagai sumber dari internet kami kupas habis bersama.Hasilnya? bisa dibilang sukses karena sedikit demi sedikit kami mampu memahami dan menyelesaikan tugas tugas ini dengan mudah.

Intinya, sesuatu itu tidak ada yang sulit kalau kita mau berkorban dan berusaha. Semangat!

DINAMIKA'S MORAL VALUE


Bangun pagi , bertas ransel , kemeja putih lengan panjang , celana hitam , dasi hitam , kepala botak dan topi dinamika. Begitulah hari hari ospek di kampus Ali Wardhana PKN STAN. Memang aneh dan tak biasa rasanya melihat anak anak dari kampus lain menjalani ospek dengan rambut terbaik mereka dan mampu mengabadikannya di dalam instastory mereka.

Pelaksanaan DINAMIKA memang terbilang seru , bahkan bisa dibilang telah menjadi salah satu hard-to-forget moment dalam kehidupan saya. Namun , euphoria dinamika itu seakan-akan buyar karena kehadiran salah satu bagian panitia DINAMIKA , namanya P2 yang memiliki kepanjangan penilaian dan penugasan.

Kalau di kampus lain ada koordinator lapangan , maka di STAN ada yang namanya P2.Memakai almamater dengan ikatan berwarna merah di lengannya dan para muka yang benar benar judes siap mendidik dan mengawasi pelanggaran pelanggaran yang dibuat oleh mahasiswa dan mahasiswa baru.

 "mereka kenapa sih marah marah terus?" , "air di botolnya cuma kurang dikit kok , ngapain kena pelanggaran sih" , "warna sepatu aja dipermasalahin" adalah salah satu dari sebagian banyak komentar mahasiswa dan mahasiswa baru mengenai jalannya acaranya DINAMIKA ini.Meskipun saya tidak membuat pelanggaran agar tidak terkena semprot para panitia P2 , tetap saja rasanya agak kesal juga melihat mereka marah marah.

"kami berteriak seperti ini bukan karena kami merasa senior! kami disini hanya ingin mengajarkan pada kalian, maba dan miba bagaimana cara menjadi disiplin dan tanggung jawab!" itulah kalimat yang keluar sebagai jawaban dari para panitia P2 kepada mahasiswa dan mahasiswi baru yang memiliki anggapan kalau P2 ini bersikap senioritas. Namun , setalah saya berpikir jernih , memang benar adanya kalau tugas tugas dan aturan yang diberikan oleh P2 memiliki suatu nilai filosofi yang tak terlihat.

Misalkan , moving dari satu gedung ke gedung lain memiliki arti bahwa sebagai punggawa keuangan negara harus memiliki jiwa dan raga yang kuat dan tidak mudah tumbang , jumlah bawaan barang yang harus sesuai memiliki arti bahwa kita harus bertanggung jawab atas perintah dan tugas yang diamanatkan ke kita. Masih banyak lagi berbagai macam penugasan yang memiliki makna untuk kehidupan kita sehari hari.Intinya tugas tugas DINAMIKA mengajarkan kami untuk menjunjung tinggi nilai nilai kementerian keuangan, yaitu INTEGRITAS , PROFESIONALISME , SINERGI , PELAYANAN dan KESEMPURNAAN.

Akhir kata , DINAMIKA bukanlah sesuatu yang memberatkan kita , melainkan sebagai sarana untuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya sebagai bekal kita menghadapi tantangan dunia.